Portalbangsa.id, Jakarta – Belakangan ini, media sosial ramai dengan tren “S Line”, sebuah filter yang memperlihatkan garis merah di atas kepala seseorang. Tren ini terinspirasi dari drama Korea berjudul S Line yang tayang Juli 2025. Dalam cerita, garis merah hanya terlihat oleh orang yang memakai kacamata khusus, dan menandakan bahwa seseorang pernah berhubungan seksual.
Di TikTok dan Instagram, filter ini langsung viral. Banyak pengguna memakai filter tersebut untuk “menguji” berapa garis merah yang muncul di atas kepala mereka. Bagi sebagian orang, ini dianggap lucu dan hiburan semata. Tapi tak sedikit yang menganggapnya berlebihan dan tidak pantas.
Tren ini memicu banyak reaksi. Ada yang menyebutnya sebagai bentuk “pamer aib”, apalagi ketika digunakan di ruang publik yang bisa diakses siapa saja. Di Indonesia yang masih menjunjung nilai sopan santun, hal seperti ini tentu menimbulkan pro dan kontra. Beberapa tokoh agama juga menyatakan kekhawatirannya karena dianggap melanggar norma.
Selain soal norma, psikolog juga menyoroti tren ini dari sisi kesehatan mental. Oversharing atau membagikan terlalu banyak informasi pribadi secara online bisa berdampak buruk pada cara kita melihat diri sendiri. Belum lagi tekanan sosial yang membuat orang merasa harus ikut-ikutan agar tidak ketinggalan zaman.
Meski begitu, tren seperti ini menunjukkan bagaimana budaya pop, teknologi, dan media sosial bisa cepat membentuk fenomena baru. Kita sebagai pengguna perlu bijak memilah mana yang sekadar hiburan dan mana yang sebaiknya tidak diikuti.
Tren S Line memang sedang naik daun, tapi bukan berarti semua yang viral harus kita ikuti. Kadang, menjaga privasi dan menghargai batasan diri sendiri jauh lebih keren daripada sekadar ikut tren. (*)
