Foto: Rahmat Dermawan saat di Musrenbang. (ist)
Portalbangsa.id, Kutai Kartanegara – Kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) yang mengalami tekanan fiskal tidak boleh menjadi alasan bagi pembangunan untuk berhenti. Anggota DPRD Kukar, Rahmat Dermawan, menegaskan bahwa di tengah keterbatasan, Kecamatan Sangasanga harus mampu bertransformasi dengan mengedepankan skema kolaborasi dan memberdayakan potensi lokal.
Hal tersebut disampaikan Rahmat saat menghadiri Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) di Kecamatan Sangasanga. Forum yang dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Bappeda, camat, lurah, hingga tokoh masyarakat itu menjadi ajang untuk merumuskan arah pembangunan di tengah situasi anggaran yang serba terbatas.
Rahmat menjelaskan, saat ini pemerintah daerah tengah melakukan efisiensi di berbagai sektor seiring dengan menyusutnya pendapatan daerah. Ia menilai, ketergantungan terhadap APBD sebagai satu-satunya sumber pembiayaan sudah tidak relevan lagi.
“Kita tidak bisa lagi hanya berpangku tangan pada APBD. Ke depan, kita harus mengkolaborasikan seluruh sumber daya yang ada. Pembiayaan melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan, dukungan dari pemerintah provinsi, hingga pemerintah pusat harus kita optimalkan secara tepat sasaran,” ujar politikus PDI Perjuangan itu.
Lebih jauh, legislator dapil Sanga-Sanga, Muara Jawa, dan Samboja itu mengingatkan bahwa ketergantungan terhadap sektor energi dan sumber daya alam yang tidak terbarukan harus segera dikurangi. Menurutnya, Sangasanga perlu menyiapkan sektor ekonomi alternatif yang berkelanjutan.
Rahmat mengaku sejak awal mendorong penguatan sektor pariwisata, ekonomi kreatif, dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) sebagai lokomotif baru pertumbuhan ekonomi masyarakat. Keberadaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Patung Bung Karno di Sangasanga, dinilainya sebagai momentum strategis yang harus dimanfaatkan warga.
“Momen ini harus kita manfaatkan dengan baik. Saya mendorong masyarakat untuk mengambil peluang ini. Semua elemen perlu bersinergi, baik pemerintah, pelaku usaha, maupun komunitas seni dan UMKM,” katanya.
Sebagai bentuk dukungan nyata, Rahmat menyampaikan bahwa pihaknya telah mengalokasikan anggaran pada tahun 2026 untuk pengembangan kelompok UMKM, pelaku seni, dan ekonomi kreatif. Hal ini diharapkan mampu menjadi katalis bagi berbagai gagasan masyarakat dalam menggerakkan roda perekonomian lokal.
“Dalam kondisi fiskal yang menantang seperti sekarang, pendekatan kolaboratif dan diversifikasi ekonomi adalah langkah penting. Dengan begitu, pembangunan di Sangasanga tetap berjalan dan manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas,” pungkas Rahmat. (*)
